Jumat, 26 April 2019

Psikologi Penari Upiak-Upiak Kareh


Pengertian tari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:1011) didefinisikan sebagai gerakan badan yang berirama dan biasanya diiringi bunyi-bunyian. Penari diartikan sebagai orang yang pekerjaannya menari. Sedangkan menurut Amir Rohkyatmo (1986:74) yaitu gerak ritmis yang indah sebagai ekspresi jiwa manusia, dengan mempertahankan unsur ruang dan waktu. Jadi, tari ialah serangkaian gerak yang mengekspresikan emosi jiwanya dengan ritme yang indah.
 Berbagai macam jenis tari, salah satunya ialah Tari kreasi baru yang merupakan sebuah tarian yang dikembangkan oleh seorang koreografer atau juga disebut penata tari. Tari Kreasi Baru Terdapat dua jenis yaitu: 1) Tari kreasi baru pola non tradisi, tarian ini adalah tarian yang tidak menggunakan sama sekali unsur tradisional dalam tariannya. Baik itu gerakannya, rias dan kostum, iramanya. 2) Tari kreasi baru pola tradisi Tari seni ini menggunakan sentuhan unsur tradisional. Baik itu gerakannya, rias dan kostum, iramanya. Ada nilai-nilai tradisi yang dibawakan dalam tarian jenis ini.
Pada hakekatnya pemilihan tari kreasi dengan pola non tradisi, berangkat dari kegelisahan seorang seniman, koreografer yang memandang kalau tetap mempertahankan tradisional akan ketinggalan jaman. Sedangkan, dengan hal yang berbeda ada pula yang tetap memilih pola tradisi dengan menggunakan sentuhan tradisional. Seniman melihat bahwasanya dengan tetap mempertahankan tari tradisional akan mengangkat budaya, lingkungan dan masyarakat sekitar.
Mengkaji lebih dalam Pertunjukan Tari Upiak-Upiak Kareh yang melakukan pertunjukan Tari Kreasi Pola Tradisi dengan Psikologi. Menurut Gotshalk Penilaian Seniman yang kreatif mengandung dua sisi, yaitu sisi subjektif dan sisi objektif. Sisi subjektif sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, seperti kepekaan, imajinasi, karakter pribadi, hasrat, dan berbagai pengalaman khususnya. Sisi objektif dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti lingkungan fisik, sistem nilai, pengaruh tradisi, kebutuhan sosial, bahan atau materi, iklim budaya (Gotshalk, 1966).
Hadirnya, seorang kritikus berperan sebagai jembatan penghubung antara kepentingan Seniman dengan Apresiator. Pada Era Globalisasi seperti hari ini, sangat dituntut gerakan para seniman untuk mempertahankan budaya kita tapi tetap dengan konsep yang tidak ketinggalan jaman. Hal ini lah yang mendukung Upiak-Upiak Kareh melakukan Tari Kreasi baru Pola Tradisi yang mengangkat budaya Minang.
Upiak-Upiak Kareh melakukan Pertunjukan Tari pada 22 April 2019, pukul 20.30 WIB di depan Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, tepatnya di jalan aspal. Seluruh penari menggunakan baju hitam polos, celana Galembong dengan ikan kepala batik ciri khas Prodi Karawitan ISI Padangpanjang.
Ditinjau dari sisi objektifitas pada bidang bahan dan material penari terganggu. Terlihat pada gerak penari yang kurang selaras dan maksimal, seperti pada adegan menari di  aspal yang berbatu menyiksa fisik penari karena menggunakan pola level rendah, selain gerak yang kurang selaras, respon apresiator dan dekatnya jarak pennton ketika pertunjukkan berlangsung tampak mengganggu konsentrasi penari, mengakibatkan penari lupa pada beberapa gerak.
Dilihat dari sisi subjektif penari tampak kurang peka terhadap keadaan sehingga mengganggu fokus penari. Pola lantai penari yang cenderung keluar dari sorot lampu. Tapi hasrat penari untuk melakukan pertunjukkan patut diacungi jempol karena penari tetap bersemangat melakukan pertunjukan meski cuaca rinai dan pertunjukkan dilakukan di outdoor.