Stack Of Grip dalam Komposisi Ruang
S.
Hasanah N
foto by: Jimmy
Trans Padang adalah layanan angkutan umum Bus Rapid
Transit (BRT) di Kota Padang yang mulai beroprasi pada Januari 2014. Trans
Padang merupakan program unggulan pemerintah sejalan dengan Undang-Undang Np.22
tahun 2009 tentang lalu lintas angkutan jalan (LLAJ) serta keputusan mentri
perhubungan No.35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan umum dijalan
dengan kendaran umum.
Trans Padang merupakan bus dengan tipe sedang yang
memiliki kapasitas 40 orang yang dimana 20 berdiri dan 20 duduk di kursi.
Dilengkapi fasilitas tempat duduk prioritas untuk penumpang lanjut usia, ibu
hamil. Penumpang dengan anak dan penumpang berkebutuhan khusus. Trans ini
beroprasi setiap hari mulai pukul 06.00-22.00 WIB, koridor utama pada rute
lubuk buaya-pasar raya. Rincian jalur, jalan Andinegoro- jalan Prof. Dr.
Hamkah-jalan Khatib Sulaiman-jalan Rasuna Said-jalan Bagindo Aziz Chan.
Alasan itulah yang menjadi latar belakang (konsep)
Annisa Khairani sebagai koreografer. Konsep koreografi adalah pemikiran-pikiran
yang diterapkan guna mewujudkan suatu bentuk dan gaya dalam susunan tari
(pudjaswara, 1982:96). Pertunjukkan tari sabtu, 27 Juni 2019 dalam rangka Ujian
Komposisi ruang dengan tipe Abstrak, di Auditorium Bostanoel Arifin Adam. Pada
karya ini, pengkarya memfokuskan gantungan tangan dalam bus (Handle) sebagai tempat tumpuan yang digunakan untuk
menjadi keseimbangan peumpang. Pertunjukkan yang berdurasi 28 menit berjudul
Stack Of Grip dengan penari 6 orang.
Unsur utama seni tari menyangkup: Wiraga, berkaitan
dalam suatu tari, baik itu rangkaian gerak maupun sikap gerak (Supriyanto,
2012:4). Wirama berarti irama atau ritme, gerak tari harus memiliki irama dan
diiringi sebuah irama atau musik. Wirasa dimaksudkan rasa penari itu sendiri,
tarian yang berisi cerita bermakna harus dibawakan oleh penari sesuai dengan
rasa yang ingin disampaikan oleh koreografer.
Berdasarkan alirannya tari terbagi atas tari
tradisional, tari kreasi baru dan tari kontemporer. Annisa dalam pertunjukkannya
menggunakan aliran kontemporer. Tari kontemporer biasanya menghasilkan tarian
yang bersifat simbolik dan mengandung pesan yang menceritakan sebuah kisah yang
tidak umum sehingga pertunjukan kontemporer cendrung lebih unik dan menarik. Pertunjukkan
Stack Of Grip menggunakan baju hitam dengan property tali gantung menyerupai
pegangan penumpang dalam bus.
Menurut unsur utama seni tari Wiraga, pertunjukkan
tari berkelompok ini tidak terlihat kompak. Ketika pertunjukkan berlangsung
dalam beberapa adegan beberapa penari terlihat kurang hafal dengan gerakan yang
akan dilakukan, terlihat beberapa penari mencuri pandang pada teman disebelah
dan di depannya. Tak hanya itu, ketika fast
(gerak cepat), 2 penari terlihat tidak tidak hafal sehingga seharusnya
gerak bersamaannya, gerakan pun menjadi bergelombang. Tabrakan antar pernaripun
tak terhindari. Mungkin ini penyebab kurangnya latihan dalam bulan puasa,
sehingga tidak maksimal.
Dilihat dari unsur tari Wirama, ketika penari tidak
hafal maka wirama antar penari tidak terjaga kestabilannya. Tempo iringan musik
dan gerak kurang selaras terutama ketika penari menggunakan gerak lambat tapi
musik tetap dengan tempo cepat dan nada tinggi, sehingga rasa dan cerita yang
ingin disampaikan koreografer tak tersalur dengan baik. Ketika gerak bebas,
antar penari tak menilai/menghitung tempo dari music sehingga tarian bagian ini
terlihat berantakan dan tak mengandung pesan apapun.
Dilanjutkan dari unsur tari Wirasa, saya kecewa
dengan setiap pertunjukkan yang ditampilkan dalam pertunjukkan di Ujian
Komposisi Ruang. Penari melakukan gerak tari tanpa rasa. Penari menari dalam
tekanan. Penari tampak terganggu dan tak bebas bergerak. Memikirkan gerak
selanjutnya, memikirkan ujiannya dan tidak menikmati setiap pertunjukkannya.
Bahkan, ada penari yang melakukan gerak tari tanpa power, tempo berantakan dan
mata liar. Seharusnya sebagai seniman apapun yang terjadi ketika telah berada
di atas panggung, rasa dan pesan yang disampaikan harus tersalur dengan baik
kepenonton. Disinilah pentingnya Wirasa hadir dalam diri setiap penari. Jika
dilihat dari sudut penonton, tak banyak penonton yang berasal dari luar kampus.
Dilihat dari sudut Dosen, para dosen tak memasang wajah tegang, mereka asik
menikmati makanan yang disediakan setiap penari. Penulis sendiri tidak paham apa
yang menyebabkan penari tidak menggunakan rasa.
Begitu pula dalam pertunjukkan ini. Hanya terlihat 2
penari yang menggunakan Wirasa, tapi tak pada setiap adegan. Pada beberapa
adegan penari ini juga sering kehilangan rasanya, terutama ketika perubahan
pola lantai. Penari yang lain hanya pada beberapa adegan saja yang terlihat
menggunakan Wirasanya. Bahkan ada penari yang terlihat bermain-main dalam
melakukan gerakan tari (asal gerak). Gerak kedua penari yang menggunakan rasanya
dalam gerakannya jadi tertutupi dengan penari yang melakukan gerak tanpa rasa.
Selesai dalam unsur seni tari, sekarang saya melihat
dari aliran tarinya yaitu aliran Kontemporer. Tari kontemporer yang banyak
menggunakan simbol sangat jelas terlihat dalam pertunjukkan ini. Pertunjukkan
tari diawali dengan penari yang bersikap seolah-olah sedang menunggu bus. Namun
adegan ini yang terlalu lama membuat pembuka pertunjukkan terlihat monoton.
Setelah adegan ini, penyambung adengannya terlihat tempelan dan tak berjalan
mengalir. Setelah seluruh penari berpencar dengan berbagai gaya seolah menanti
bus mengapa setiap penari berkumpul di tengah lalu diam mematung ketika music
telah berganti, gerakpun dilanjutkan.
Banyaknya gerak tari yang diulang dalam setiap
adegan membuat koreografer terlihat kurang kreatif dalam menciptakan gerak.
Seperti adegan penari terseret oleh Handle (gantungan tangan dalam bus) sering
terulang, adegan ini juga terlihat berlebihan. Selain itu, adegan tari lainnya
juga terlihat berlebihan seperti adegan berpencar 1 penari berjalan
mengelilingi panggung tanpa makna sedangkan penari lain melakukan gerak yang
terkesan lebay (berlebihan).
foto by: Jimmy
Tapi spektakel dalam pertunjukkan ini sangat menarik
penonton. Seperti adegan menaiki tali, melakukan gerak di atas tali dan adegan
bergantung ditali lainnya. Bahkan tak sekali penonton berteriak diiringi tepuk
tangan ketika pertunjukkan ini berlangsung. Kekurangan pertunjukkan di awal
tertutupi dengan spektakel-spektakel yang dihadirkan koreografer.
Selain gerak tarinya, saran untuk pertunjukkan
selanjutnya, penggunakan lighting yang lebih berfariasi dapat membuat
pertunjukkan lebih menarik. Pertunjukkan yang hanya menggunakan satu warna
lighting membuat pertunjukkan kurang menarik. Seperti pada pertunjukkan Stack
Of Grid yang hanya menggunakan warna merah gelap untuk lightingnnya. Kostum
berwarna hitam dan lighting berwarna merah gelap menurut saya kurang serasi.
Karena warna gelap dan gelap membuat pertunjukkan ini seperti pertunjukkan
horor. Jika menggunakan pilihan warna lighting lain yang lebih tepat, bisa
membuat suasana pertunjukkan lebih hidup dan bermakna.
Nilai atau pesan yang disampaikan oleh koreografer
tergambar pada gerak tari yang dilakukan oleh penari, kondisi aman pada
gantungan tangan (handle) yang ada di bus menjadi titik fokus dalam
pertunjukan. Meski dalam kondisi apapun, bus tetap memberikan layanan yang baik
dan menjamin setiap penumpang yang ada di dalam bus. Pesan yang disampaikan ini
tergambar dengan baik oleh koreografer sehingga penonton dapat dengan cepat
menangkap apa yang hendak disampaikan oleh koreografer.
Penulis
merupakan pegiat Komunitas Kuflet & mahasiswa Prodi Teater ISI
Padangpanjang

